Trending Topic
MAIN GAME HARUS SESUAI DENGAN TINGKAT USIA
10 Mei 2016 07:58 Techno/ Games
img

Madingkita.com - Permainan di layar elektronik seperti Game Online atau Play Station bila penggunaan dan

penerapannya tepat dapat memberikan dampak positif pada, bahkan dapat dirancang khusus

sebagai media pembelajaran yang efektif bagi perkembangan kognitif, motorik maupun

sosial-emosional. 

 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyatakan ada studi

yang menyebutkan bahwa anak yang terbiasa main game yang sesuai umurnya, ternyata

mereka pengambil keputusan yang cepat dan berani, berlatihnya dari game.

 

Tetapi sebaliknya, jika anak-anak memainkan permainan untuk dewasa maka bisa

menimbulkan dampak negatif. Mereka akan kecanduan karena adrenalin yang terpacu dan

bisa berperilaku brutal.

 

"Game itu tergantung cara penggunaannya. Jangan anti game, jangan juga buta pro game.

Tidak semua  game memiliki karakteristik yang cocok untuk dimainkan oleh anak semua

umur.  Orangtua perlu tahu dan peduli bahwa ada sistem rating yang memberi peringatan

pembelinya tentang kecocokan konten untuk dimainkan anak usia tertentu. Sehingga anak-

anak terhindar dari dampak buruknya,” kata Mendikbud Anies Baswedan beberapa waktu

lalu.

 

Di Amerika Serikat misalnya, terdapat sistem Entertainment Software Rating Board (ESRB).

Dalam sistem ESRB, terdapat enam kategori rating, yaitu: Early Childhood (cocok untuk

anak usia dini), Everyone (untuk semua umur), Everyone 10+ (untuk usia 10 tahun ke atas),

Teen (untuk usia 13 tahun ke atas), Mature (untuk usia 17 tahun ke atas) dan Adults Only

(untuk dewasa), serta satu kategori antara Rating Pending. Deskripsi konten dalam ESRB pun

beraneka, mulai dari Blood and Gore, Intense Violence, Nudity, Sexual Content, sampai Use

of Drugs. Di kotak video game biasanya terdapat pengkategorian seperti ini, semisal "Mature

17+: Blood and Gore, Sexual Theme, Strong Language”.

 

Klasifikasi ini menjadi sangat penting karena prinsipnya berbagai pihak di sekeliling anak

wajib bertanggung jawab terhadap anak yang termasuk kelompok rentan terhadap berbagai

pengaruh teknologi. Sebagian orangtua pun amat awam terhadap model/rating game dan

tidak menyadari bahwa tidak semua game cocok untuk anak semua umur, sehingga terlewat

mengawasi anak-anaknya dalam memilih game.

 

Anies Baswedan mengharapkan orangtua menyadari tentang pengkategorian game ini, serta

membimbing dan terlibat bersama anak-anaknya memilih game yang cocok bagi mereka.

Tujuannya agar pada akhirnya anak memiliki media literacy - kemampuan untuk melek

media - memahami alat dan konten yang mereka gunakan dan mampu memilih yang tepat

dan berpengaruh positif.

 

Penggunaan game yang baik mampu menghibur tanpa berisiko memberikan dampak buruk,

dimainkan dalam porsi yang pas dan seimbang dengan berbagai alternatif kegiatan lain.

Orangtua juga perlu mahir dalam memanfaatkan video game sebagai salah satu media

pembelajaran sesuai minat dan kebutuhan anak. 

 

Anies juga mendorong para pecinta game (gamers) yang telah memahami sistem rating

dalam game agar turut membantu menyebarkannya kepada para orangtua dan guru.

 

Tips Mencegah Kecanduan Game

Direktur Indonesia Heritage Foundations (IHF) Wahyu Farrah Dina dalam Seminar

Pendidikan Keluarga Duta Oase Cinta yang diselenggarakan Kemdikbud beberapa waktu lalu

berbagi tips menghindari kecanduan game. 

 

Pertama, Susun jadwal aktivitas pengganti games: seperti olahraga, seni dan aktivitas lainnya.

Kedua, jauhi peralatan dan software games secara bertahap.

 

“Yang juga penting, letakkan Play Station, komputer atau perangkat game online lainnya di

ruang terbuka. Bukan di kamar,” kata Wahyu Farrah Dina. Terakhir, tentu, jangan kenalkan

game kepada anak di bawah usia 8 tahun, kecuali game edukatif.(red/kemendikbud)